January 25, 2010 by benramt
Makalah, oleh Saiful Amien
PENDAHULUAN
Sebelum mendiskusikan pelbagai prinsip yang tersurat dalam handbook of Instructional Message Design[1], ada baiknya kita mengingatkan kembali beberapa terma yang berkaitan dengan pokok bahasan ini. Dengan begitu, diharapkan prinsip-prinsip persepsi di atas dapat diletakkan sesuai foldernya dalam khazanah pengetahuan kita. Beberapa istilah ini telah disinggung dalam pengantar buku ini, dan kami hanya berupaya untuk menampilkan kembali dan memberinya “catatan kaki”:
-
Pesan (message) ialah suatu pola tanda/lambang, baik berupa kata maupun gambar, yang dimaksudkan untuk mengubah prilaku kognitif (berpikir), afektif (bersikap) dan psikomotorik (bertindak) seseorang atau kelompok[2].
-
Rancangan (design) ialah proses analisis dan sintesis yang dimulai dengan suatu problem komunikasi dan diakhiri dengan rencana solusi operasional.[3]
-
Pembelajaran (instuction) di sini tidak hanya merujuk kepada konteks pembelajaran formal di ruang kelas, di mana pemerolehan keterampilan dan konsep tertentu merupakan tujuan sentralnya, tetapi juga mencakup seluruh apa yang terkandung dalam istilah “komunikasi”, termasuk konteks pembelajaran informal, di mana sikap dan emosi amat diperhatikan.[4]
-
Rancangan pesan pembelajaran (instructional message design) ialah rencana proses rekayasa (manipulasi) pola tanda dan simbol yang menghasilkan pelbagai kondisi belajar. Dalam hal ini, Asumsi yang dikembangkan oleh Fleming dan Levie adalah bahwa para praktisi pembelajaran bisa menjadi lebih efektif jika mereka memanfaatkan generalisasi (kesimpulan umum) hasil penelitian ilmu-ilmu behavioral. Generalisasi inilah di dalam buku ini disebut sebagai “prinsip”[5].
PERIHAL PERSEPSI
Pengertian persepsi
Kata “persepsi” diambil dari kata berbahasa Inggris “perception”, sebuah kata benda (noun) yang oleh APA Dictionary of Psychology didefinisikan dengan:
“The process or result of becoming aware of object, relationship, and events by means of the senses, which includes such activities as recognizing, observing, and discriminating. These activities enable organisms to organize and interpret the stimuli received into meaningful knowledge.”[6]
Senada dengan pengertian itu Kamus Psikologi terbitan Indonesia mengartikan persepsi sebagai proses dimana seseorang menjadi sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimiliki.[7]
Melengkapi definisi di atas, Atkinson juga menyebut persepsi sebagai proses dimana kita mengorganisasi dan menafsirkan pola stimulus ke dalam lingkungan.[8]
Sedangkan Davidoff seperti yang dikutip oleh Walgito mengartikan persepsi sebagai stimulus yang diindera oleh individu, sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera itu.[9] Hal ini seperti pengertian kata “percept” dalam bahasa Inggris, yang oleh APA Dictionary of Psychology didefinisikan dengan: “the product of perception: stimulus object or event as experienced by the individual”.[10]
Lebih lanjut Kartono memberikan pengertian tentang persepsi sebagai pengamatan secara global, belum disertai kesadaran, sedang subyek dan obyeknya belum terbedakan satu dari lainnya (baru ada proses “memiliki” tanggapan).[11]
Imanuell Kant seperti yang dikutip oleh Mahmud MD. mengatakan “kita melihat benda-benda itu tidak sebagaimana adanya benda-benda itu sendiri, tetapi sebagaimana adanya diri kita” atau dengan kata lain persepsi itu merupakan pengertian kita tentang situasi sekarang dalam artian pengalaman-pengalaman kita yang telah lalu. Karena itu apa yang kita persepsi pada waktu tertentu akan tergantung bukan saja pada stimulusnya sendiri, tetapi juga pada latar belakang beradanya stimulus itu, misalnya pengalaman-pengalaman sensoris terdahulu, perasaan kita pada waktu itu, prasangka-prasangka, keinginan-keinginan, sikap dan tujuan kita. Lebih lanjut Mahmud mendefinisikan persepsi sebagai penafsiran terhadap stimulus yang telah ada di dalam otak.[12]
Selanjutnya Bruner mengatakan bahwa persepsi adalah proses kategorisasi. Organisme dirangsang oleh suatu masukan tertentu (obyek luar, peristiwa dan lain-lain) dan organisme itu merespon dengan menghubungkan masukan itu dengan salah satu kategori atau golongan obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa, proses menghubungkan ini adalah proses yang aktif dimana individu yang bersangkutan dengan sengaja memberikan kategori yang tepat sehingga ia dapat mengenali (memberi arti) kepada masukan tersebut.[13]
Saleh dan Wahab mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses yang menggabungkan dan mengorganisasikan data-data indera kita (penginderaan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat menyadari di sekeliling kita, termasuk sadar akan diri kita sendiri. Definisi persepsi lainnya menurut Saleh dan Wahab menyebutkan bahwa persepsi adalah kemampuan membeda-bedakan, mengelompokkan, memfokuskan perhatian terhadap satu objek rangsang dan dalam proses pengelompokkan dan membedakan ini persepsi melibatkan proses interpretasi berdasarkan pengalaman terhadap satu peristiwa atau objek.[14]
Persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami setiap informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan penafsiran yang unik terhadap situasi dan bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi.[15]
Adapun pengertian persepsi menurut Desiderato, seperti yang dikutip Jalaludin Rahmat, adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli).[16]
Dari pelbagai definisi di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian makna atau interpretasi yang mencakup pemahaman, mengenali dan mengetahui suatu objek melalui panca indera (sensasi) sehingga individu menyadari apa yang ia lihat, apa yang di dengar dan sebagainya.
Untuk lebih memperjelas pengertian persepsi, ada baiknya kita membedakannya dengan sensasi (proses menangkap stimuli) seperti dalam pemisalan Jalaluddin Rahmat berikut ini:
Suatu hari Anda menyaksikan kawan Anda sedang melihat-lihat etalase toko. Anda menyergapnya dari belakang, “Bangsat lu. Udah lupa sama aku, ya!” Orang itu membalik. Anda terkejut. Ia bukan kawan Anda, tetapi orang yang belum pernah Anda kenal seumur hidup Anda. Ini bukan kesalahan sensasi, tetapi kekeliruan persepsi. Bila dosen mengatakan “Bagus”, tetapi Anda mendengar “Agus”, Anda keliru sensasi. Tetapi bila saya mengucapkan “Anda cerdas sekali, lalu Anda menerima pujian saya berang, karena Anda kira saya mempermainkan Anda, Anda salah mempersepsi pesan saya.[17]
Proses terjadinya persepsi
Persepsi dapat terjadi bila tiga komponen utama berikut terpenuhi, yaitu :
-
Seleksi atau sensasi, yaitu proses penyaringan oleh indera terhadap rangsangan dari luar, intensitas dan jenisnya dapat banyak atau sedikit.
-
Interpretasi yaitu proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang. Interpretasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pengalaman masa lalu, sistem nilai yang dianut, motivasi, kepribadian dan kecerdasan. Interpretasi juga bergantung pada kemampuan seseorang untuk mengadakan pengkategorian informasi yang diterimanya, yaitu proses mereduksi informasi yang kompleks menjadi sederhana.
-
Interpretasi ini kemudian di terjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi.[18]
Jenis-jenis persepsi
Menurut Irwanto,[19] setelah individu melakukan interaksi dengan obyek-obyek yang dipersepsikan maka hasil persepsi dapat dibagi menjadi dua yaitu :
-
Persepsi positif. Persepsi yang menggambarkan segala pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan yang diteruskan dengan upaya pemanfaatannya.
-
Persepsi negatif. Persepsi yang menggambarkan segala pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan yang tidak selaras dengan obyek yang dipersepsi.
Dapat dikatakan bahwa persepsi itu baik yang positif ataupun yang negatif akan selalu mempengaruhi diri seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Dan munculnya suatu persepsi positif ataupun persepsi negatif semua itu tergantung pada bagaimana cara individu menggambarkan segala pengetahuannya tentang suatu obyek yang dipersepsi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang, antara lain:
-
Psikologi. Persepsi seseorang mengenai segala sesuatu di dunia ini sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologi, sebagai contoh, terbenamnya matahari di waktu senja yang indah temaram, akan dirasakan sebagai bayang-bayang yang kelabu bagi seseorang yang buta warna.
-
Famili. Pengaruh yang paling besar terhadap anak-anak adalah familinya. Orang tua yang telah mengembangkan suatu cara yang khusus di dalam memahami dan melihat kenyataan di dunia ini, banyak sikap dan persepsi-persepsi mereka yang diturunkan kepada anak-anaknya.
-
Kebudayaan. Kebudayaan dan lingkungan masyarakat tertentu juga merupakan salah satu faktor yang kuat di dalam mempengaruhi sikap, nilai dan cara seseorang memandang dan memahami keadaan di dunia ini.[20]
Sedangkan menurut Krech dan Crutchfield faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah:
-
Faktor-faktor fungsional. Objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Contohnya pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional dan latar belakang terhadap persepsi.
-
Faktor-faktor struktural. Medan perceptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya.[21]
Ciri-ciri umum persepsi
Ciri-ciri umum dari persepsi menurut Shaleh dan Wahab diantaranya adalah sebagai berikut:
-
Modalitas: rangsangan yang diterima harus sesuai dengan modalitas tiap-tiap indera, yaitu sifat sensoris dasar dan masing-masing indera (cahaya untuk penglihatan; bau untuk penciuman; suhu bagi perasa; bunyi bagi pendengaran; sifat permukaan bagi peraba dan sebagainya).
-
Dimensi ruang: dunia persepsi mempunyai sifat ruang (dimensi ruang); kita dapat mengatakan atas-bawah, tinggi-rendah, luas-sempit, latar depan-latar belakang, dan lain-lain.
-
Dimensi waktu: dunia persepsi mempunyai dimensi waktu, seperti cepat lambat, tua-muda, dan lain-lain.
-
Struktur konteks, keseluruhan yang menyatu: objek-objek atau gejala-gejala dalam dunia pengamatan mempunyai struktur yang menyatu dengan konteksnya. Struktur dan konteks ini merupakan keseluruhan yang menyatu.[22]
Syarat terjadinya persepsi
Menurut Moskowitz dan Orgel agar individu dapat menyadari dan dapat mengadakan persepsi, ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi yaitu :
-
Adanya objek yang dipersepsi. Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar langsung mengenai alat indera (reseptor), dapat pula datang dari dalam langsung mengenai syaraf penerima (sensoris), yang bekerja sebagai reseptor.
-
Alat indera atau reseptor, yaitu merupakan alat untuk menerima stimulus. Disamping itu harus ada pula syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Dan sebagai alat untuk mengadakan respons diperlukan syaraf motoris.
-
Untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi sesuatu diperlukan pula adanya perhatian, yang merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan persepsi. Tanpa perhatian tidak akan terjadi persepsi.
Dari hal-hal diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mengadakan persepsi ada syarat-syarat yang bersifat fisik atau kealaman, fisiologis, dan psikologis[23]
PRINSIP PERSEPSI DAN DESAIN PESAN
Prinsip dasar (pernyataan umum) persepsi
Fleming dan Levie menyebutkan beberapa prinsip dasar persepsi, yaitu:
-
Persepsi itu bersifat relatif (prinsip relativitas)
-
Persepsi itu bersifat selektif (prinsip selektifitas)
-
Persepsi itu terorganisir (prinsip pengorganisasian)
-
Persepsi itu amat dipengaruhi oleh kecenderungan seseorang (prinsip kecenderungan)


0 komentar:
Posting Komentar